4 Dampak Buruk yang Bisa Dialami Man City Setelah Adanya Hukuman UEFA

 453 total views,  1 views today

Manchester City tengah diterpa masalah setelah dinilai melanggar peraturan Financial Fair Play (FFP) yang diterapkan Badan Sepak Bola Eropa ( UEFA).

Akibat pelanggaran itu, Man City dijatuhi larangan tampil di kompetisi antarklub Eropa untuk dua musim ke depan, yaitu 2020-2021 dan 2021-2022, serta didenda 30 juta euro atau sekitar Rp 445 miliar.

Klub berjulukan The Citizens itu dinilai bersalah oleh Badan Kontrol Keuangan Klub-klub UEFA (CFCB) karena terbukti menggelembungkan pemasukan sponsor di dalam neraca keuangan mereka antara 2012 dan 2016.

 

Penyelidikan ini ditempuh menyusul investigasi yang dimulai dari bocoran email dan dokumen yang dilakukan majalah Jerman, Der Spiegel, pada November 2018.

Guardian mencatat bahwa di dokumen dan email-email tersebut, pemilik Man City, Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan dari keluarga penguasa Abu Dhabi, terungkap menyuntikkan uang pribadi melalui sponsor utama Man City, Etihad.

Sheikh Mansour ditemukan menyalurkan uang pribadi ke sponsor bernilai 67,5 juta poundsterling atau Rp 1,1 triliun per tahun tersebut yang membuat nama Etihad muncul di jersey pemain City, nama stadion, dan akademi Man City.

Bahkan, salah satu surat elektronik yang dibocorkan mengungkapkan bahwa maskapai Etihad pada kenyataannya hanya membayar 8 juta poundsterling untuk menjadi sponsor City.

Sisa dana disokong langsung oleh Abu Dhabi United Group, perusahaan yang menjadi kendaraan Mansour dalam memiliki Man City.

Man City sendiri akan menempuh jalur banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS).

Namun, jika banding mereka ditolak, hukuman dari UEFA diprediksi akan menimbulkan dampak negatif terhadap segala aspek di Man City.

 

 

Berikut ini sejumlah dampak negatif yang bisa dialami Man City jika banding mereka ditolak:

1. Kehilangan Guardiola

Pep Guardiola pernah berbicara terkait perkara Financial Fair Play (FFP) yang membelit Man City.

Saat itu, Guardiola mengaku percaya dengan penjelasan dari para petinggi klub dan meyakini The Citizens tidak melakukan pelanggaran seperti yang dituduhkan.

Namun, bukan tidak mungkin sikap Guardiola berubah setelah adanya hukuman UEFA untuk Man City.

Kontrak Guardiola akan berakhir pada 2021 mendatang, dan ia sudah memenangi sejumlah gelar bersama The Citizens.

BBC meyakini hasil banding Man City kepada Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) akan menjadi penentu vital bagi masa depan Guardiola di klub itu.

2. Ditinggalkan para pemain

Sergio Aguero merayakan golnya bersama Kevin De Bruyne pada pertandingan Manchester City vs Southampton di Stadion Etihad
Sergio Aguero merayakan golnya bersama Kevin De Bruyne pada pertandingan Manchester City vs Southampton di Stadion Etihad

 

Hukuman ini juga akan membuat Man City terancam ditinggalkan oleh sejumlah pemain mereka penting mereka.

Pasalnya, ada beberapa pemain andalan Man City yang kontraknya berakhir sebelum hukuman tersebut selesai.

Contohnya saja striker Sergio Aguero dan pemain sayap Leroy Sane. Kontrak mereka di Man City berakhir pada tahun 2021.

 

Kontrak bek John Stones juga akan selesai pada tahun 2022, demikian pula Nicolas Otamendi.

Lantas, bagaimana dengan Kevin de Bruyne, Ederson, Bernardo Silva, Raheem Sterling, Bernardo Silva, dan Riyad Mahrez yang kontraknya baru selesai di atas tahun 2022?

Jika Guardiola pergi, tak sulit untuk melihat beberapa nama di atas mengikuti jejak serupa.

 

3. Kehilangan poin koefisien

Perkara ini membuat Man City kehilangan peluang untuk mendulang poin koefisien UEFA.

Dengan demikian, ketika nanti kembali berlaga di ajang antarklub Eropa, Man City akan menjadi unggulan bawah.

Memulai dari fase terbawah akan menyulitkan Man City untuk mencapai tahap akhir kompetisi Eropa.

 

4. Reputasi hancur

 Pemilik City Football Group, Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan, melambaikan tangannya saat berada di Stadion Etihad

Pemilik City Football Group, Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan, melambaikan tangannya saat berada di Stadion Etihad

 

Dampak terburuk yang mungkin dialami Man City adalah kerusakan reputasi.

Sejak 2009, Man City telah membangun reputasi sedemikian rupa untuk bisa membawa klub berwarna biru langit itu berkibar.

Namun, hukuman larangan berlaga di ajang UEFA meruntuhkan reputasi positif yang selama ini sudah susah payah dibangun.

Mereka akan dianggap sebagai klub yang telah menggunakan cara curang untuk meraih kejayaan.

Reputasi buruk pastinya juga akan melekat terhadap sang pemilik, Sheikh Mansour, dan pimpinan klub Khaldoon Al-Mubarak.